Memiliki Cita-Cita Membuat Saya Merasa Manusiawi

jam eror

Banyak sekali kampanye tentang #IstriParuhWaktu yang beredar di dunia maya belakangan ini. Kampanye ini berisi tentang betapa tidak enaknya menjadi perempuan-perempuan yang bekerja fulltime dan hanya menjadi istri freelance. Kampanye ini banyak beredar di kalangan akhwat berkerudung, meski ada juga perempuan-perempuan tanpa kerudung berkontribusi meramaikannya dan merasa senasib.

Tetapi, ada banyak perempuan di luar sana, meskipun memiliki suami berpenghasilan cukup besar, namun tetap memilih bekerja fulltime. Padahal tanpa harus bekerja, sebenarnya si istri sudah cukup bahagia menikmati gaji suaminya. Teman saya banyak nih yang begini ini. Ada salah seorang teman saya berkata: “saya bekerja bukan mengejar rupiah, tetapi supaya ada pergaulan dan itu membuat saya merasa manusiawi. Lagian kata orang, ibu yang bekerja cenderung menghasilkan anak-anak yang lebih mandiri.”

Heheheee…. Pendapat itu tidak salah tentu saja. Setiap orang memiliki ritme hidup dan pandangan berbeda. Yang penting hati kita konsisten dengan setiap keputusan yang kita jalankan.

Saya sendiri, saat ini memang memilih mengurusi rumah tangga, mengurusi anak, dan bekerja freelance sebagai penulis. Banyak orang yang bertanya ke saya (termasuk suami saya, mertua saya, bahkan ibu saya sendiri): “apa kamu tidak bosan? Apa kamu tidak mau bekerja lagi? Kan anakmu sudah lumayan besar…. sudah bisa ditinggal.”

Anak saya berumur 3 tahun dan saya menganggapnya masih kecil.

Ketika saya, dulu, memutuskan untuk berhenti bekerja kantor, sebenarnya yang protes duluan adalah orangtua saya. Katanya, “sayang banget, zaman sekarang susah cari kerjaan, bla..bla…bla…” bahkan pernah ada komentar dari mama saya seperti ini, “nanti kalau sudah nggak kerja, kamu bisa diinjak-injak dan diperlakukan semena-mena oleh suami.” Saya tanya, “kenapa bisa mikir sampe ke situ?”. Katanya, “karena suami zaman sekarang banyak yang menganggap rendah ibu rumah tangga, karena mereka hanya menempel, menjadi benalu, yang bisanya cuman hambur-hamburin uang suami.”

Saya memaklumi pandangan ibu saya. Karena begini, zaman sekarang, kebanyakan laki-laki mencari pasangan hidup (istri), cenderung memilih perempuan-perempuan bekerja. Laki-laki terdidik zaman sekarang lebih bergairah berhadapan dengan istri-istri bekerja yang ‘menghasilkan uang’. Apalagi kalau istrinya pegawai bank yang pakai rok selutut, ber-makeup sensual, dan berrambut pendek, hahahahaa…. pasti deh dia bangga sekali.

Dan, memang laki-laki yang bekerja adalah makhluk yang paling responsif terhadap citra dirinya. Jiwa mereka terbentuk otomatis untuk mempertahankan kemapanan diri. Mereka terbiasa mengejar pencapaian tinggi, melakukan agresi, dan mengobarkan persaingan. DAN, memiliki istri cantik, seksi, pekerja kantoran, merupakan daya jual tersendiri bagi mereka.

Hahahaha…. Rempong kan yeee…..

Saya pernah melalui kehidupan seperti itu: menjadi wanita kantoran. Bahkan dahulu kala, ketika baru lulus kuliah, saya pernah bekerja menjadi SPG. Sebenarnya orangtua saya berkecukupan secara materi. Maksudnya mereka bukan orang yang susah-susah banget. Tapi, saya sejak kecil terbiasa dididik mandiri. Waktu kuliah, saya kuliah dengan beasiswa (meski orangtua saya selalu mengirimkan uang bulanan dan membayar biaya kuliah saya), saya juga bekerja sampingan ketika kuliah (menjadi penulis, bekerja di lembaga training, dan sebagainya). Saya melakukannya supaya saya merasa manusiawi (memiliki cita-cita, mengejarnya, dan berjuang untuk itu, membuat saya merasa manusiawi). Jadi, ketika saya mau beli laptop, saya tidak meminta uang lagi ke orangtua. Ketika saya beli motor, saya juga tidak meminta uang ke orangtua. Bahkan ketika saya mengurusi skripsi, sama sekali saya tidak merepotkan orangtua. Hehehee….

Nah, zaman sekarang, ketika sudah menjadi istri dan memiliki anak, orentasi cita-cita saya adalah untuk keluarga, untuk mendidik anak dengan benar, tetapi juga harus menopang kehidupan suami. Saya harus realistis. Jika menjadi pekerja kantor, wanita karir, lantas saya mengabaikan keluarga dan hanya mendapat rupiah yang tak seberapa, well….mending nggak usah deh. Bekerja dan bergaul dengan keluarga itu harus seimbang. Tau sendiri kan yah, menjadi wanita karir yang bekerja kantoran di Jakarta ini agak rempong. Hahahaha…. Toh, dengan menjadi penulis freelance, saya juga punya penghasilan. Meskipun enggak banyak sih. Tapi, lumayanlah buat beli make up, baju, tas. Wkwkwkw….

 

Dengan kaitkata , , ,

Sambungan Ceritanya Tentang HRD Yang Feodal

Tadinya, saya agak malas melanjutkan cerita https://d1ni.wordpress.com/2015/04/20/ceritanya-soal-hrd-yang-feodal/. Karena pesan yang saya renungi di cerita ini agak klise pada akhirnya. Hehehehe…. Intinya: dalam setiap keputusan hidup, akan selalu ada konsekuensi yang menyertainya. Dalam dunia kerja pun demikian. Ketika kau menginginkan pendapatan yang tinggi, kau jelas musti membayarnya dengan bekerja keras. Tentu saja gaya hidupmu pun harus keras!

Bahkan, kau tidak hanya sekedar bekerja keras, kau juga harus cerdas dalam segala hal. Termasuk diantaranya: cerdas mencari perhatian atasan, cerdas menikam rekan kerja, cerdas mengatur citra diri, dan sebagainya.

Perusahaan telah menetapkan standarnya, hirarki kasta setiap pegawai, dan HRD menjadi kaki tangan yang siap menyortirmu supaya mampu memenuhinya. Jadi, jika kau mengeluh bahwa perusahaan-perusahaan Indonesia banyak yang feodal (baik atasan, HRD, dan lingkungan kerjanya), itu karena keadaan yang menyebabkan mereka berlaku demikian.

Malam ini saya bercakap sebentar dengan salah seorang teman saya (semasa saya masih kerja kantor dahulu kala). Namanya Ibu YL. Dia baru saja resign dari pekerjaannya dan seperti orang yang baru resign: ia memiliki keluhan, kemarahan, dan ketidakpuasan terhadap atasan dan perusahaan yang menaunginya (saya pun mengalaminya ketika itu dan saya mengerti mengapa dia demikian).

Saya pribadi ketika itu memang tidak terlalu menyukai pekerjaan saya (saya bekerja sebagai analis mikro di salah satu BUMN). Satu-satunya alasan mengapa saya bisa ada di tempat itu, karena memang hanya pekerjaan itu yang bisa membuat saya dekat dengan ibu saya di Sulawesi Utara. Sebelumnya, sebagai frash graduate, saya sudah lolos seleksi tahap akhir menjadi staff PPIC di salah satu perusahaan sepatu di Sidoarjo. Saya melamar di perusahaan sepatu (brand ternama Eropa) karena saya saya menyukai sepatu (titik). Tapi, ibu saya tidak setuju saya hidup terlalu lama jauh dari orangtua (saya merantau hampir 8 tahun; sejak SMA sampai kuliah). Maka saya pun pulang (meski pada akhirnya setelah tahap wawancara, penempatan saya ketika itu tidak di tempatkan di kantor cabang yg dekat dengan rumah).

Gaji pokok di perusahaan sepatu itu (ini gaji ketika tahun 2008) adalah 5jt (belum ditambahi bonus), gaji sebagai analis mikro di perusahaan BUMN itu (tahun 2008) sekitar 3jt (ditambah insentif dan lembur kadang bisa mendekati 4-5jt—ini juga kalau rajin kerja). Saya pikir2, okelah saya pilih di perusahaan BUMN. Lagipula meski gaji kecil, tapi perusahaan BUMN itu konservatif: kerja aman dan agak jarang pegawainya diPHK lantaran perusahaan bangkrut. Lagipula kalo rajin kerja pasti bisa naik gaji.

Tiga bulan pertama saya bekerja di perusahaan BUMN itu, saya agak susah menyesuaikan diri. Hahahahaaa….. Tiap hari saya masuk-keluar pasar, ketemu klien level pengusaha mikro yang rata-rata: pedagang ikan, pedagang sayur, pedagang kelontong, dan sebagainya. Memang sih ada juga klien level pengusaha kopra, tapi yah gitu dehhh….rumit jika diceritakan lebih jauh. Seharusnya saya kerja di perusahaan sepatu. DAMN! Bisa jadi saya saat ini sedang mentereng bangga kemana-mana pakai sepatu yang dijual di gerai Plaza Indonesia paling murah seharga 25juta (dan konon di perusahaan itu produk cacatnya bisa dibeli dengan harga setengah dari itu).

Tapi sudahlah…. Mari kita kembali membahas teman saya, Ibu YL, dan kekecewaannya kepada perusahaan BUMN itu.

Untuk staff biasa, jika mau naik kasta menjadi manager, perusahaan BUMN itu menetapkan banyak standar. Mulai dari portofolio kelolaan yang bagus, KPI yang bagus, test tertulis, test kesehatan, sampe tofel yang standarnya mesti 500. Nah, kalau lo mau naik jabatan lagi, ke level di atas manager, ada lagi testnya (pokoknya tiap naik level ada standar yg mesti dipenuhi). Bahkan, setiap tahun ada sajah test-test tulis begini ini. Wakakakak…. jadi biar pala lo udah ubanan, otak lo dipaksa harus tetap bugar supaya bisa survive.

Dalam hati, saya agak jengkel dengan berbagai standar ribet ini. Laki saya masuk ke perusahaan asing engga pernah pake test2 ribet gitu. Cuman wawancara doang. Lagian, divisi saya ketika itu adalah mikro kredit, yang tiap hari kerjaannya ketemu pengusaha pasar! Tofel 500 dan kemampuan berbahasa Inggris itu mau dipake buat apaaaahhhhh????? Lo kaga mungkin bercakap-cakap dengan pedagang pasar yang bau preman, bau ikan, bau tomat, bau sayur-mayur, pake bahasa inggris kan yah?

Bukannya saya anti asing. Saya pribadi menyekolahkan anak saya di sekolah berbahasa Inggris. Tapi, maksud saya, mengapa perusahaan-perusahaan itu tidak meletakan segala sesuatu sesuai porsinya? Mengapa harus ribet dan ngejlimet gitu?

Saya akhirnya resign dari kantor itu karena lelah. Lelah berkutat dengan perhitungan pendapatan usaha orang lain, memastikan asetnya memenuhi syarat, dan harus memenuhi dokumen yang SAMA TEBAL dengan dokumen pengusaha small bisnis (bahkan SAMA TEBAL dengan pengusaha retail besar). Hahahahaah….. sampe skarang saya belum bisa menemukan jawaban mengapa dokumen2 itu begitu ribet, rumit, dan sangat banyak untuk dikerjakan!

mampus lo

Saya resign tepat beberapa hari setelah salah seorang teman saya meninggal dunia dan kepala cabang saya hanya memberi keluarganya sebuah karangan bunga bundar dengan diameter tiga puluh senti dan ucapan belasungkawa. Teman saya itu meninggal tanpa asuransi jiwa, tanpa santunan resmi dari kantor (bahkan mungkin tanpa santunan dari kepala cabang), karena dia hanya seorang pegawai biasa. Dia menghabiskan hidupnya di kantor lebih dari 12 jam sehari dan dia hanya mendapatkan karangan bunga berdiameter tiga puluh senti.

Keputusan saya untuk resign terbilang spontan. Intinya: saya tidak mau mati mendadak begitu dan di dalam kubur saya menyesali kehidupan kantor saya yang monoton dan melelahkan. Saya mau menikmati hidup: berkeluarga, punya anak, dan kalaupun saya nantinya bekerja kantoran lagi, saya harus menikmatinya tanpa banyak drama.

Saya membebaskan diri dari kantor itu, dan saya mengucapkan selamat kepada Ibu YL yang sudah melakukannya. Saya sebenarnya pernah mendapat tawaran pekerjaan (yang lain) sebanyak dua kali setelah resign. Salah satu diantaranya masih di sektor perbankan, yang satu lagi mengajar di sekolah berbahasa inggris di kawasan kelapa gading. Tapi, saya belum bisa memutuskan untuk bekerja kembali. Alasannya: karena saya tidak bisa mempercayakan anak saya kepada pembantu rumah tangga sepenuhnya (tanpa pengawasan maksimal).

Dengan kaitkata , ,

Gara-gara Si Artis AA

karena berita ini http://metro.news.viva.co.id/news/read/623849-polisi-umumkan-kronologi-penangkapan-artis-cantik-siang-ini?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook, aku dan seseorang terlibat pembicaraan serius.

 

“Giliran ngomongin poligami elo komentar miring. Trus kalo membahas prostitusi elo sering belaiin.”—kata dia akhirnya.

Kata saya: “Heeeeh? Kenapa dua kalimat itu harus digabung menjadi satu? Seolah-olah poligami dan prostitusi itu sama-rata?”

“Iya, soalnya dua2nya sama saja, dua-dunya menjadikan perempuan sebagai objek.” jawab dia.”Menurut aku, poligami itu sama seperti prostitusi yang dilegalkan dalam aturan pernikahan. Bahkan pernikahan itu sendiri adalah prostitusi yang dilegalkan oleh hukum agama dan negara, karena ada mas kawin yg membeli perempuan dibaliknya.”

“Kalau perempuan minta mas kawin seperangkat alat sholat, itu masuk kategori prostitusi?” tanya saya.

“Itu masuk kategori kebodohan hahahaaha….” dia tertawa terbahak-bahak. “Harusnya perempuan minta mas kawin yg lebih dari itu. Perek aja ada yg lebih mahal dari itu.”

“Mungkin itu yg membedakannya, bahwa di luar sana, masih banyak perempuan yg tidak memperdagangkan cinta dan pernikahannya.” kata saya.

“Ahhh… lo aliran feminisnya pragmatis.”

“Heh???”

“Gue kutib kata-kata lo tadi: Di luar sana, masih banyak perempuan yg tidak memperdagangkan cinta dan pernikahannya—pernyataan ini secara tidak langsung membuat lo menyetujui poligami.”

“Heeeeehhhh???”

“Iya, jadi kalo ada perempuan rela dimadu, tanpa imbalan apa pun, dia berarti tidak menegosiasikan dan memperdagangkan cintanya.”

“HAAAAAAAAAAAAAA?????” shock dengan mulut mengaga.

Ceritanya Soal HRD Yang Feodal

maxine2

Di beberapa malam, suami saya sering sekali curhat tentang hubungannya dengan HRD di kantornya sekarang. Jadi sebenarnya ini masalah kantor yang klasik aja sih. Dimana-mana (perusahaan Indonesia terutama) yang namanya orang-orang HRD itu yah begitu: agak feodal. Wakakaakk…

Sebelum lebih lanjut membahasnya, kita definisikan feodal itu apa sih.

Feodal atau Feodalisme adalah struktur pendelegasian kekuasaan sosiopolitik yang dijalankan kalangan bangsawan/monarki untuk mengendalikan berbagai wilayah yang diklaimnya melalui kerja sama dengan pemimpin-pemimpin lokal sebagai mitra (sumber: Wikipedia).

Katakanlah para bangsawan dalam konteks ini adalah HRD (Human Resources Development), yang mana mereka selalu menjadi bagian Maha Penting dalam struktur organisasi perusahaan.

Cerita lengkapnya begini. Alkisah di perusahaan suami yang sekarang, dibuka seleksi penerimaan pegawai baru. Beberapa orang di tempatkan langsung menjadi bawahan suami saya. Lalu tahap wawancara pun dimulai. Suami saya sendiri mendapat bagian untuk mewawancarai mereka, karena ia adalah seorang PM (project manager). Tapi ujung-ujungnya, ketika seluruh berkas lamaran itu diserahkan kepada HRD, mereka mengusulkan kandidat berdasar portofolio CVnya—yang mana tentu saja mereka mengusulkan kandidat yang memiliki ijasah S1 daripada yang lulusan SMA. Meskipun yang lulusan SMA ini pengalaman kerjanya jauh lebih banyak daripada S1.

Lalu suami saya pun bercerita lebih jauh. Katanya, di kantornya itu ada pegawai yang sudah bertahun-tahun kerja, tapi hanya kerana masalah “ijasah” si dia agak sulit naik jabatan dan naik gaji.

Otomatis saya pun langsung celetuk, “waduh… hari gini gitu masih ada perusahaan yang memandang ijasah diatas segala-galanya? Ibu Susi, si ibu mentri kelautan dan perikanan itu saja nggak kuliah…”

Well, harus ikut program revolusi mental tuh… hahahahaa….

Suami saya lantas memabandingkan HRD ini dengan HRD di dua perusahaannya yang sebelumnya (kedua perusahaan yang sebelumnya itu adalah perusahaan asing). Salah satunya adalah perusahaan Cina. Meskipun pada dasarnya perusahaan ini lebih menempatkan kasta pegawai ekspatriat dari negaranya di atas rata-rata, tapi pada dasarnya perusahaan ini tidak terlalu mendewakan ijasah secara ekstrim. Di perusahaan ini bahkan pernah ada lulusan S1 Australia, orang Indonesia, dan dia ditempatkan sejajar dengan pegawai2 lulusan Universitas asal Indonesia lainnya. Lalu kata suami saya, “performance kerja si lulusan S1 Ostrali ini engga seberapa dibandingkan dengan lulusan D3 Universitas-engga-terlalu-ternama di Indonesia. Dan, manajemennya pun menilai dengan fair.”

Perusahaan yang satu lagi perusahaan asal Eropa. Meskipun (sekali lagi) gaji ekspartriat dari negara-negara luar jauh lebih besar dari orang Indonesia (bahkan jenjangnya luar biasa jauh), tetapi perusahaan ini memberi peluang tanpa terlalu memandang ijasah. Yang penting kemampuan komunikasi oke, kinerja baik, dan memiliki daya juang tinggi. Lagipula sebagian besar yang kerja di perusahaan ini orang Asing, jadi yahh…kulturnya juga lebih liberal. Mereka tidak terlalu peduli lo lulusan S1 Universitas ternama atau lo lulusan D3 universitas abal-abal, semua diperlakukan sama!

Kata saya, “jadi itu kandidat kamu nggak diterima hanya lantaran dia lulusan SMA?”

Suami saya, “diterimalah… aku bilang ke HRD, aku butuh orang yang langsung bisa kerja. Bukan anak baru lulus kuliah yang masih harus diajari.”

“HRD-nya langsung oke?”

“Sebenarnya agak rumit. Tapi, si HRD ngasih catatan: si kandidat lulusan SMA itu boleh diterima, tapi gajinya mentok di angka 3juta. Dia nggak bakal naik gaji lagi, kecuali dia punya ijasah S1.”

Aku lalu bertanya hal lain ke suami. “Beb, sebenarnya, kenapa sih kamu ngotot banget si kandidat lulusan SMA itu diterima? Teman bukan, kenalan bukan, sodara juga bukan.”

“Karena dia lebih pantes. Pertama, usianya cukup matang. Yang kedua, pengalaman kerjanya banyak: mulai dari jadi kuli, serabutan, ikut orang project, cleaning service, sampai jadi surveyor (tukang survey menara BTS gitu). Aku jelas pilih dia, ketimbang anak baru lulus itu.” Si anak baru lulus itu adalah seorang sarjana S1, kelihatan sangat anak-anak, dan suami saya pada dasarnya ragu itu anak tahan banting disuruh-suruh naik menara, disuruh pontang-panting di lapangan ke sana-sini.

Kata suami saya lagi, “entar kalo dia (si kandidat lulusan SMA itu) udah kerja, aku suruh dia sambil kuliah aja. Biar bisa naik gaji.”

“Oiya, bener. Kayak teman kamu dulu.”

Jadi… cerita flashback ke zaman suami saya masih kerja di perusahaan sebelumnya (yg di perusahaan Cina tadi). Ketika itu ada temannya, seorang office boy. Nah, Si OB ini ternyata diam-diam sambil kerja, ia juga kuliah D3 di universitas apa gitu. Nah, suatu ketika perusahaan itu kekurangan staff finance, maka naiklah si OB ini menjadi staff finance.

Tapi, cerita ini akhirnya menyisakan pertanyaan. Kata suami, dulu si OB ini (waktu masih jadi OB) boleh nginap dan tinggal di kantor. Setelah dia menjadi staff finance, dia harus ngekost. Gaji OB zaman itu (mungkin) 2juta, gaji staff finance 3.5juta. Setelah derajat hidupnya meningkat, biaya hidupnya juga meningkat: harus ngekost, harus parlente, dan harus sering nongkrong bareng teman2 parlente lainnya.

Wakakaakkakkkk…. Aku bilang, “Ironi, eh? Pendapatan meningkat, tapi pengeluaran meningkat juga. Derajar hidup meningkat, tapi kebutuhan sosial juga meningkat.”

Aku lalu merenung… (bersambung di lain wkt)

Dengan kaitkata , ,

Misoginis Atau Komersialisasi

150309042003_salvo_indonesia_624x351_bbc_nocredit

 

Apa ini, eh? Komersialisasi? Atau Misoginis?

Dengan kaitkata , , ,

penulis metropop

ironis

Usia lo hampir 40tahun,

dan lo single,

dan lo penulis novel metropop,

sakitnya tuh di sini…. hahahhaaa……

Hormon Cinta

images1Hewan ini bernama Tikus Prairie atau dalam bahasa Indonesia disebut Tikus Padang Rumput. Berdasar penelitian, mereka mampu hidup monogami seumur hidup karena si tikus jantan memiliki gen penerima vasopresin di otaknya yang berkualitas panjang. Para peneliti juga menambahkan, hormon oksitosin tikus perempuan, juga turut mengikat pasangannya dengan baik. Terutama bau badan dan sentuhan.

Tetapi, saudara sepupu mereka, Si Tikus Gunung, sangat suka mencari keberagaman seksual. Itu karena Tikus Gunung memiliki gen vasopresin lebih pendek dari Tikus Padang Rumput.

Perbedaan gen vasopresin kedua jenis Tikus ini, bermula di dalam ottikusak mereka. Ketika Tikus Padang Rumput Jantan menemukan pasangannya, dia mampu berhubungan seksual dengan si tikus betina secara maraton, berulang-ulang, dalam kurun waktu 24 jam. Dan, aktivitas seksual ini mengubah otaknya selama-lamanya, membuatnya menolak secara agresif tikus tanah betina lainnya.

Sedangkan Si Tikus Gunung, ia memiliki spesialisasi di dalam hubungan singkat yang hanya bertahan selama kurang satu menit. Itulah mengapa ia tak mampu monogami dan selalu bertualang secara seksual. Namun, ketika para ilmuan memasukan gen vasopresin dengan kualitas panjang kepada beberapa Tikus Gunung, beberapa diantara mereka pada akhirnya ada yang berhasil monogami. Meskipun ada juga yang gagal.

Jadi, laki-laki yang lebih lama di ranjang, yang mampu bercinta berulang kali dalam kurun waktu tertentu, jauh lebih setia dan mampu monogami daripada mereka yang cepat ejakulasi, gitu? Hahahaha….. Aku pikir, walaupun secara biologis otak manusia lebih rumit daripada otak tikus, tetapi pada dasarnya manusia juga memiliki gen penerima vasopresin yang sama. Meskipun, tentu saja, kualitas gen vasopresin setiap laki-laki berbeda antara satu dan yang lainnya.

Hormon Oksitosin : Hormon ini terdapat dalam tubuh perempuan; bisa memunculkan rasa percaya dan kasih sayang terhadap pasangan.

Hormon vasopresin : Hormon ini terdapat dalam tubuh laki-laki; bisa memunculkan rasa waspada dan sifat agresif untuk melindungi pasangannya.

Kombinasi oksitosin dan estrogen pada perempuan, maupun vasopresin dan testosteron pada laki-laki, yang kemudian dilekatkan dalam urusan asmara dan aktifitas seksual, keduanya mampu menghasilkan hormon dopamin. Dopamin adalah hormon yang menimbulkan candu terhadap sesuatu. Dopamin juga bisa dihasilkan setelah seseorang mengkonsumsi zat-zat yang bersifat adiktif, seperti rokok dan narkoba. Tapi, dalam hubungan seksual yang dilatari cinta yang begitu dahsyat, kadar dopamin seorang laki-laki akan meningkat jauh lebih banyak dari perempuan.

Dengan kaitkata , ,