Belakangan ini sedang heboh masalah korupsi di DPR. Mulai dari kasus BLBI sampe dengan kasus alih fungsi hutan Bintan. Belakangan juga terdengar aksi anarkis (pelanggaran HAM) sebuah ormas Islam yang tega bakar masjid sebuah aliran yang dianggap menyimpang. Lalu ada pilkada daerah yang mendudukan seorang mantan artis laga di kancah pemerintahan daerah. Ada juga pemberitaan pencekalan artis dangdut di beberapa daerah.

Saya sedih… masalah bangsa ini kok makin lama makin kompleks ya? Dan, sayangnya saya menangkap semua masalah yang terjadi di atas itu hanya kamuflase soal siapa bisa mengkamuflase kekuasaan dan popularitas di atas siapa. KPK seolah ingin tampil di kancah politik dengan wajah pahlawan melalui dukungan presiden. Tapi saya heran. Kalau kasus di bintan KPK bisa setegas ini, lalu bagaimana dengan kasus Lapindo? Mungkin agak sulit kali ya menyeret Abu Rizal Bakrie karena dia termasuk salah satu antek-antek SBY.

Yang bikin saya pengen ketawa, DPR seolah hilang harga diri gitu di mata rakyat. Wajah bobrok DPR di mata rakyat bisa dilihat di lirik lagu Slank. Tapi, saya cukup salute dengan ketua DPR yang kelihatan banget berusaha jaga image DPR. Beliau ini agak gengsi juga—nggak mau martabatnya turun dibawah ketua KPK.

Lalu ada faktra tentang beberapa ormas Islam yang merasa perlu mengangkat senjata, mengambil bensin, dan membakar rumah ibadah saudaranya, seolah mereka ingin menunjukan pada dunia bahwa mereka bisa saja membenarkan aksi terorisme dalam bentuk apa pun atas nama agama. Sebagai umat muslim terus terang saya kecewa. Hanya karena ada yg mengaku nabi, banyak yg udah main bakar-bakar masjid gitu. Gimana kalau ada yg ngaku Tuhan ya?! Mungkin banyak yg bakal bakar kampung kali.

Lalu ada Dede Yusuf yang ternyata mampu mengalahkan popularitas Agum Gumelar. Ini jelas permainan politik yg cukup indah. Tapi masalahnya teteup… kamuflase soal siapa bisa mengkamuflase kekuasaan dan popularitas di atas siapa.

Dan, yang paling lucu dari semuanya, masalah Dewi Persik yg bersitegang dengan aksi pencekalan beberapa pemimpin daerah yang tentunya juga merupakan ’kamuflase soal siapa bisa mengkamuflase kekuasaan dan popularitas di atas siapa’. Ha! Ha.. ha…

Semua pemberitaan di atas itu seolah membuat banyak org melupakan begitu saja SEMUA kasus kemiskinan dan kelaparan yang di derita bangsa ini selama bertahun-tahun. Kasus busung lapar diabaikan. Kasus konversi minyak tanah ke gas yg mengorbankan ribuan rakyat kecil diabaikan. Kasus orang2 yang kehilangan rumah mereka di Sidoarjo karena terendam lumpur lapindo DIABAIKAN. Kasus masyarakat pedalaman di Indonesia bagian TIMUR yg sampai detik ini tidak memperoleh fasilitas kehidupan yg layak DIABAIKAN.

Semua ribut masalah korupsi, munculnya nabi palsu, terus pencekalan artis di sana-sini. Nggak heran negara ini krisis multidimensi. Soalnya orang2 yg membangunnya sebagian besar punya keahlian mengkamuflase kekuasaan dan popularitas (biar kelihatan keren dan bijaksana di mata rakyat BODOH).

PS. Saya berpikir mau pindah negara.

Still with me,
Dini Ayu

Life List

April 22, 2008

Usia 20-an adalah usia dimana secara mental kita dituntut untuk segera berpikir dewasa. Di titik ini sudah seharusnya kita punya rencana jelas untuk masa depan kita. Saya kali ini mencoba membuat dua daftar rancangan hidup (buat persiapan). Yang pertama adalah daftar rancangan hidup versi realistis saya. Dan, yang kedua adalah daftar rancangan hidup versi tidak realistis saya.

Ini adalah daftar rancangan hidup versi realistis saya saat ini :

  • Lulus S1 dengan gelar sarjana teknik—insya Allah tahun ini.
  • Ngelamar kerja—di perusahaan apa aja yg mau nerima sarjana IPK standar (diatas 2.75), dengan pengalaman non akademis nggak terlalu banyak tapi lumayanlah, bisa design (pake autocad, corel juga bisa, photoshop, gambar manual juga lumayan), pernah mempublikasikan beberapa tulisan ; 7 cerpen, 2 novel, & beberapa artikel ga jelas di koran murahan, bisa nyanyi (ha! sebenarnya pengalaman yg ini ga penting. prestasi membanggakan di bidang tarik suara yg pernah saya raih : juara 3 lomba nyanyi di acara 17 agustus SMA. hehehe…), banyak omong (pokoknya saya bisa diajak diskusi lah), banyak teman, banyak yg naksir (ups!), hmm… apa lagi ya? O iya, saya bisa tahan di depan laptop 3 hari (tanpa tidur).
  • Nikah (?)
  • Beli rumah di… (taulah… dimana aja yg penting punya rumah)
  • Beli mobil
  • Punya anak (?)
  • Di titik ini saya berhenti (coz saya belum ada rencana lanjutan)

Dan… Ini adalah daftar rancangan hidup versi tidak realistis saya :

  • Lulus S1—harus tahun ini (kalo boleh bulan Juli)
  • Ngerintis karir di bidang publishing (kalo bisa sih jadi editor dulu. habis itu saya akan berpikir untuk punya perusahaan penerbitan sendirir).
  • Nulis novel tentang pengalaman pribadi (ini juga agak sulit).
  • Masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award.
  • Backpacking ke negara-negara konflik seperti Afrika, Afganistan, atau Palestina (kalo perlu daftar buat jadi sukarelawan PBB selama setahun di sana).
  • Backpacking ke eropa (kalo boleh ke prancis dulu. saya pengen menikmati senja di Seine, lihat bekas peninggalan Napoleon di louvre, dan saya mau berfoto dgn salah satu seniman jalanan yg sering nongkrong di Jardines des Tuileries).
  • Punya rumah di Bali.
  • Nikah (dan pergi bulan madu ke lombok).
  • Punya 5 anak (cowok 2, cewek 3).
  • Di titik ini saya berhenti menulis (bingung… kenapa saya buat rancangan hidup ’tidak realistis’ ini).

Still with me,
Dini Ayu

sumpah! keren banget!

April 22, 2008

ini blog keren abis (lihat di sini http://indexed.blogspot.com ). isinya notasi2 ilmiah gitu. dengar-dengar ada film yg terinspirasi dari blog ini lho.

dua postingan favorite saya di blog tadi :

Tadi selesai bimbingan skripsi saya ketemu teman satu jurusan yang sejak lama telah mengabdikan diri ke sebuah organisasi mahasiswa indpeneden. Di kampus, teman saya ini tergolong cukup popular. Terutama dikalangan anak-anak fakultas teknik.

Pada umumnya kehidupan kampus terbagi atas tiga bagian. Mereka yang hidup lurus di jalur akademis, mereka yang hidup menyimpang di organisasi, dan mereka yang tidak mau masuk ke dalam kedua golongan tadi.
Teman saya ini adalah tipe yang kedua. Seseorang yang menghabiskan kehidupan kampusnya bertualang dari satu organisasi ke organisasi yang lain. Seseorang yang rela mengesampingkan urusan akademis demi mewujudkan kepentingan organisasi. Seseorang yang pernah memutuskan untuk cuti kuliah dan pergi berdemo dari satu kota ke kota yang lain.

Saya bertanya kepada teman saya, “Apa keuntungan yang sudah kamu dapat dari semua petualangan itu?”. Masalahnya begini, saya bisa memaklumi jalur hidup yang dipilih teman-teman saya yang hidup statis di jalur akadimis. Mereka rajin masuk kuliah, ngerjain tugas, menjadi anak baik di mata dosen, lulus dengan gelar cumlaude, tujuannya sudah pasti biar cepat dapat kerja. Tapi, mereka yang hidup di jalur organisasi, bermain politik ini-itu, mempertaruhkan nyawa setiap kali berdemo—sebenarnya keuntungan apa yang mereka inginkan?

Teman saya bilang ia hanya ingin memperjuangkan apa yang seharusnya diperjuangkan. Katanya, organisasi yang diperjuangkannya adalah organisasi idealis yang berpihak pada rakyat kecil. Ia lalu menceritakan petualangannya bersama buruh pabrik. Bagaimana kehidupan para buruh itu patut diacungkan jempol. Mereka bangun jam lima pagi, berangkat kerja, lalu sore pulang ke rumah. Dengan resiko dan tingkat keselamatan kerja menyedihkan, juga upah yang tidak sesuai. Ada juga cerita tentang istri tukang becak yang sekarat, dia mengantarnya ke rumah sakit, tapi kemudian rumah sakit mempersulitnya dengan urusan administrasi.

Dari pembicaraan itu saya merengung. Setiap orang mungkin memiliki tujuan hidup yang berbeda-beda. Tapi saya jarang menemukan orang yang tujuan hidupnya adalah untuk mengejar tujuan hidup orang lain. Saya salute dengan keberanian teman saya yang mati-matian memperjuangkan kehidupan orang lain (meskipun sebagai konsekwensinya ia harus mengabaikan kehidupan pribadinya).

still with me,

dini ayu

Saya tidak suka diperlakukan buruk oleh orang lain. Oleh sebab itu sebisa mungkin saya tidak akan memperlakukan orang lain dengan buruk. Saya sangat memegang teguh prinsip dan kepercayaan saya. Dan, saya menghormati prinsip dan kepercayaan orang lain.Tapi kadang hidup ini membuat saya capek untuk menghadapinya. Saya bosan menjadi diri saya yang sekarang. Saya tidak suka koleksi novel saya dipinjam dan tidak dikembalikan. Saya tidak suka diporotin teman yang tidak tahu diri. Saya tidak suka uang saya dipinjam dan tidak dikembalikan. Saya tidak suka lapotop saya dimasuki virus lewat tangan orang lain. Saya tidak suka motor saya dipinjam lalu dikembalikan dengan tangki kering. Saya tidak suka menjadi orang yang mudah menggampangkan hal-hal sepeleh kemudian menyadari kebodohan saya di belakang. Saya tidak suka!

Masalahnya saya selalu berusaha bersikap sangat fair. Saya tidak suka melihat orang lain repot untuk saya. Karena saya selalu berusaha bersikap tidak merepotkan orang lain. Mungkin ada orang yang bilang saya perhitungan dalam segala hal. Ada bahkan yang lebih sadis ngatain saya ‘orang yang nggak mau rugi’. Tapi, siapa pun yang ada di muka bumi ini pasti tidak mau dirugikan.

Saya sudah berusaha bersikap masa bodo dengan semua hal itu. Tapi akhirnya toh saya kembali dihadapkan pada persoalan kesabaran yang tentunya ada batasnya. Dan, jangan salahkan saya kalau suatu ketika saya meluapkan emosi. Karena saya sudah cukup sabar selama ini.

Silahkan benci saya. Karena being a nice people bukan image yang ingin saya bangun untuk diri saya. Saya hanya ingin menjadi diri saya apa adanya—dan saya tidak suka ‘dirugikan’ oleh orang-orang yang tidak tahu diri.

Still with me,
Dini Ayu