Saya Ingin jadi Pribadi yang saya mau. Saya ingin BAHAGIA.

Juni 13, 2011

happy!Saya ini tipe anak yang sangat penurut. Saya memang sedikit kritis. Tapi tidak pernah menjadi pembangkang. Setiap hal yang orangtua saya katakan, walau kadang menimbulkan argumen panjang, tapi pada akhirnya saya selalu mengalah, mendengarkan, dan melaksanakan perintah mereka sampai tuntas. Saya ini hampir tidak pernah keluar dari jalur yang sudah direncanakan. Saya anak baik, penurut, idola ibu-ibu.

Tapi sebenarnya saya orang yang menyimpan bakat spontanitas. Waktu kuliah, tidak banyak yang tahu, saya sempat mangkir satu semester hanya karena saya bosan dengan rutinitas dan ingin mencari kehidupan yang lebih menantang. Waktu itu sebenarnya dipacu dengan patah hati. Jadi, lebih karena ego saya terluka, saya merasa perlu ada sesuatu yang berubah dalam hidup saya yang standar. Lalu Boom! saya menghilang satu semester. Jalan-jalan, ikut kegiatan ini-itu, training ini-itu, dan dalam proses mangkir itu saya menemukan & mempelajari banyak hal. Di saat-saat itulah, waktu di Bandung saya ketemu Dody Kurniawan, mantan pacar saya waktu SMA, lelaki yang tidak pernah punya pacar lain selain saya, pribadi yang cupu tapi romantis, dan sekarang dia suami saya.

Lalu hidup berjalan, saya kembali ke kampus dan menyelesaikan kuliah. Namun dengan jiwa yang berbeda. Saya tidak lagi terlalu mengejar nilai-nilai bagus, saya tidak lagi mengerjakan tugas-tugas kuliah sampai tidak tidur, saya menjalankan hidup saya lebih rileks dan menikmatinya. Pernah waktu itu dapat nilai D. Well, saya tertawa dan mengambil SP untuk memperbaikinya. Saya bahkan terdepak dari daftar penerima beasiswa. Sebenarnya uang beasiswa itu tidak terlalu saya butuhkan. Mengejar dan mendapatkan beasiswa itu sebenarnya hanya karena gengsi semata. Bukan karena duitnya saya butuhkan. Saya bahkan selalu terlambat mengambil uang beasiswa itu. Seringkali uang itu saya belanjakan untuk hal-hal ga penting.

Sampai kemudian akhirnya saya lulus kuliah. Dengan nilai standar. Saya bangga dan puas. Hahaha…. Lalu orangtua yang saya cintai menyuruh saya pulang kampung. Saya memang agak jarang pulang. Tapi toh akhirnya saya pulang. Dengan backpack yang isinya cuman lima potong pakaian.

Sesampai di kampung, saya tidak pernah diizinkan kembali ke tanah Jawa. Orangtua yang sangat saya cintai menginginkan saya hidup di kampung halaman. Karena menurut mereka, peluang untuk hidup mapan secara financial lebih besar di kampung halaman. Orangtua saya sedikit tradisional. Tidak suka terlibat dengan hal-hal beresiko. Mereka hidup realistis tanpa mau rugi. Tujuan hidup mereka sederhana; hidup baik, makan cukup, tidur nyenak, punya pekerjaan tetap, rumah, mobil, anak-anak terdidik, dan sedikit tabungan atau tanah untuk diwariskan.

Seumur hidup saya tidak pernah menang melawan orangtua. Saya begitu mencintai dan menyayangi mereka. Saya menurut. Saya menjalankan apa yang mereka inginkan untuk kehidupan saya.

Sampai akhirnya saya dipinang Dody Kurniawan.  Sebelumnya ritme pacaran kami banyak mengalami pasang-surut.  Tidak gampang bertahan pacaran cukup lama, jarak jauh, dan komunikasi yg tak lancar. Tapi dia banyak mengalah untuk saya. Saya dewasa karena dia. Sejak saya kelas satu SMA, sejak saya mengenal cinta, dia lelaki paling baik yang bertahan mencintai saya.  Akhirnya kami memutuskan menikah. Karena kalau tidak menikah maka pilihan selanjutnya adalah putus. Hakhakahk…

Berumahtangga dengan dody kurniawan sangat mudah untuk saya. Tapi bagi dody kurniawan berumahtangga dengan saya mungkin agak sulit. Huehuehehe…

Lalu seiring berjalannya waktu saya dihadapkan pada pilihan berat. Resign dari pekerjaan dan ikut suami. Atau, bertahan dengan pekerjaan saya, tapi berumahtangga jarak jauh dengan suami. Hahaha… pilihan ini sebenarnya sangat mudah untuk saya. Tapi menjadi sangat sulit untuk orangtua saya. Karena mereka orang yang melahirkan, membesarkan, merawat, dan menyekolahkan saya. Mereka tidak ingin melihat saya menggunakan seragam ibu rumah tangga, yaitu : DASTER. Hakhakhakahkkk….

Well, banyak orang bertanya kenapa saya resign. Termasuk orangtua. Saya sudah menjelaskannya berulang kali. Tapi masih ada yang tidak memahaminya. Ada yang menyayangkan keputusan saya. Ada lagi yang diam-diam senang saya resign.

Saya pribadi sebenarnya menyukai pekerjaan ini. Saya belajar banyak hal di perusahaan itu. Sedih, senang, jatuh, bangun, semuanya.. saya sangat menikmatinya. Sampai di suatu titik, ketika salah satu teman kantor saya meninggal, saya sadar! Di lubuk hati terdalam, saya lebih menyukai kehidupan saya tanpa pekerjaan ini. Saya sangat mencintai suami dan menjadi pribadi yang saya inginkan setiap bersamanya.

Ada yang pernah bilang ke saya begini : “Kebahagiaan itu tempatnya di hati. Bukan di tempat tertentu. Atau pada pribadi tertentu.”

Iya sih… kebahagiaan itu di hati. Tapi kalau hati bisa memilih, dia akan lebih bahagia dimana :

  1. Di rumah dengan suami, nongkrong depan TV, menertawai Sule dan kekonyolan para pemain OVJ. Atau :
  2. Di kantor lembur sendirian. Pulang ke rumah sendirian dengan tumpukan pekerjaan yang mesti diselesaikan. Karena kalau tidak, besok pekerjaan akan semakin menumpuk. Begitu setiap hari.

Kalau ada yang memilih nomor 2 maka dia pribadi yang bukan kayak saya. Huehuehehe… Tak masalah sih. Karena hidup ini pilihan. Saya hanya tdk mau memilih kehidupan nomor 2.

Saya adalah orang yang percaya bahwa rejeki tidak terletak di satu pintu. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti saya berhenti mencari nafkah. Tidak pula saya berhenti berkarya. Saya hanya menyederhanakan kehidupan saya. Itu sajah. Kalau bisa mencari nafkah di rumah, kenapa harus pergi ke kantor dan berpisah ribuan kilometer dari suami?!

Sekarang saya dapat SMS dari boss : Dini sebelum ada keputusan resign mka harus masuk seperti biasa.

Saya sudah mengorbankan banyak hal untuk pekerjaan ini. Termasuk waktu, kebahagiaan, tenaga, dan suami saya. Kalau saya harus menunggu keputusan atasan dan atasan dan atasannya lagi, lalu menunggu pengganti saya datang di kantor, lalu menunggu surat keputusan itu, lalu dari hasil menunggu itu saya mendapat hadiah surat rekomendasi pengalaman kerja, takutnya saya akan menunggu semakin lama dan lama dan lamaaaaa. Sama seperti seperti menunggu SK saya yang sampai detik ini tak kunjung datang. Entah nyangkut dimana. Hakahkhakhakk…. maaf yaa, saya sudah menyusahkan teman-teman di kantor. Saya tahu dengan keputusan resign mendadak ini banyak pihak yang pusing. Terutama atasan saya langsung. Tapi, hidup ini cuman sekali, saya ingin menggunakannya untuk hal-hal yang berharga. Saya ingin menikmatinya, saya ingin menjadi diri saya yang saya mau, dan saya ingin bahagia. Tak masalah jika saya tidak mendapat surat rekomendasi pengalaman kerja. Krn untuk orang kayak saya, masa depan tidak akan pernah menjadi sesuatu yang saya khawatirkan. Saya selalu optimis. Tanpa surat pengalaman kerja itu pun, Tuhan tahu kualitas saya seperti apa, dia maha bijaksana, dan pundak saya insya Allah akan semakin ditegarkan oleh-Nya.

PS. Pakai daster ternyata jauh lebih nyaman dan menyenangkan. Sekarang saya bisa melepaskan diri dari ego wanita karir. Tuhan tahu, saya mau jadi pribadi yang baik.


Still with me,

Dini Ayu

2 Tanggapan to “Saya Ingin jadi Pribadi yang saya mau. Saya ingin BAHAGIA.”

  1. Ara berkata

    ckckckckckck… membaca ini seolah balik kemasa2 s1 dimalang dulu ekh….:) dini dgn gayanya yang khas, denger bunyi alaram jam 5 and just klik snooze mpe 10x trakhir di klik turn off..wkwkwkwkw… miss all that moment ekh…. \
    btw, ane salut ma nt pe pilihan din.. semoga segala perbuatan nt ini diganjar pahala dan benilai ibadah di mata ALLAH SWT..amien ya Rabb…

    walopun ane blon menjalani status semacam nt, tapi dialah satu nikahan sodara ane pernah denger nasehat nikah kyk gini:
    Wanita yang dijanjikan surga itu ada 4 ; yaitu wanita yang memelihara sholatnya, berpuasa pada bulannya, menjaga kemaluan dan harga dirinya dan melayani suami…..:)

    semoga nt bisa menjalankan tugas mulia sebagai istri neh… amien….:) smangat….!!!

  2. yena arg berkata

    i don’t know how you feel coz i have no husband for now, hehehe… but it’s a great story to share.. :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.