Just Take ur Time to Realize
April 29, 2008
Belakangan ini sedang heboh masalah korupsi di DPR. Mulai dari kasus BLBI sampe dengan kasus alih fungsi hutan Bintan. Belakangan juga terdengar aksi anarkis (pelanggaran HAM) sebuah ormas Islam yang tega bakar masjid sebuah aliran yang dianggap menyimpang. Lalu ada pilkada daerah yang mendudukan seorang mantan artis laga di kancah pemerintahan daerah. Ada juga pemberitaan pencekalan artis dangdut di beberapa daerah.
Saya sedih… masalah bangsa ini kok makin lama makin kompleks ya? Dan, sayangnya saya menangkap semua masalah yang terjadi di atas itu hanya kamuflase soal siapa bisa mengkamuflase kekuasaan dan popularitas di atas siapa. KPK seolah ingin tampil di kancah politik dengan wajah pahlawan melalui dukungan presiden. Tapi saya heran. Kalau kasus di bintan KPK bisa setegas ini, lalu bagaimana dengan kasus Lapindo? Mungkin agak sulit kali ya menyeret Abu Rizal Bakrie karena dia termasuk salah satu antek-antek SBY.
Yang bikin saya pengen ketawa, DPR seolah hilang harga diri gitu di mata rakyat. Wajah bobrok DPR di mata rakyat bisa dilihat di lirik lagu Slank. Tapi, saya cukup salute dengan ketua DPR yang kelihatan banget berusaha jaga image DPR. Beliau ini agak gengsi juga—nggak mau martabatnya turun dibawah ketua KPK.
Lalu ada faktra tentang beberapa ormas Islam yang merasa perlu mengangkat senjata, mengambil bensin, dan membakar rumah ibadah saudaranya, seolah mereka ingin menunjukan pada dunia bahwa mereka bisa saja membenarkan aksi terorisme dalam bentuk apa pun atas nama agama. Sebagai umat muslim terus terang saya kecewa. Hanya karena ada yg mengaku nabi, banyak yg udah main bakar-bakar masjid gitu. Gimana kalau ada yg ngaku Tuhan ya?! Mungkin banyak yg bakal bakar kampung kali.
Lalu ada Dede Yusuf yang ternyata mampu mengalahkan popularitas Agum Gumelar. Ini jelas permainan politik yg cukup indah. Tapi masalahnya teteup… kamuflase soal siapa bisa mengkamuflase kekuasaan dan popularitas di atas siapa.
Dan, yang paling lucu dari semuanya, masalah Dewi Persik yg bersitegang dengan aksi pencekalan beberapa pemimpin daerah yang tentunya juga merupakan ’kamuflase soal siapa bisa mengkamuflase kekuasaan dan popularitas di atas siapa’. Ha! Ha.. ha…
Semua pemberitaan di atas itu seolah membuat banyak org melupakan begitu saja SEMUA kasus kemiskinan dan kelaparan yang di derita bangsa ini selama bertahun-tahun. Kasus busung lapar diabaikan. Kasus konversi minyak tanah ke gas yg mengorbankan ribuan rakyat kecil diabaikan. Kasus orang2 yang kehilangan rumah mereka di Sidoarjo karena terendam lumpur lapindo DIABAIKAN. Kasus masyarakat pedalaman di Indonesia bagian TIMUR yg sampai detik ini tidak memperoleh fasilitas kehidupan yg layak DIABAIKAN.
Semua ribut masalah korupsi, munculnya nabi palsu, terus pencekalan artis di sana-sini. Nggak heran negara ini krisis multidimensi. Soalnya orang2 yg membangunnya sebagian besar punya keahlian mengkamuflase kekuasaan dan popularitas (biar kelihatan keren dan bijaksana di mata rakyat BODOH).
PS. Saya berpikir mau pindah negara.
Still with me,
Dini Ayu
Aku kIra panDanGan kaMu teNtaNg nEgAra Ini ada benarnya, seMua-nYa penuh saNdiwara, taPi SemUa itU adA maKsudNya yaNg suDaH digaRiskAn oLeh yAng mAHa kUaSa. dAn sEgAla seSuAtu itU harUs kIta sYukurI.SemUa iTu Ada mAksUdnYa.