prajurit terbuang di pojok kampus
April 15, 2008
Tadi selesai bimbingan skripsi saya ketemu teman satu jurusan yang sejak lama telah mengabdikan diri ke sebuah organisasi mahasiswa indpeneden. Di kampus, teman saya ini tergolong cukup popular. Terutama dikalangan anak-anak fakultas teknik.
Pada umumnya kehidupan kampus terbagi atas tiga bagian. Mereka yang hidup lurus di jalur akademis, mereka yang hidup menyimpang di organisasi, dan mereka yang tidak mau masuk ke dalam kedua golongan tadi.
Teman saya ini adalah tipe yang kedua. Seseorang yang menghabiskan kehidupan kampusnya bertualang dari satu organisasi ke organisasi yang lain. Seseorang yang rela mengesampingkan urusan akademis demi mewujudkan kepentingan organisasi. Seseorang yang pernah memutuskan untuk cuti kuliah dan pergi berdemo dari satu kota ke kota yang lain.
Saya bertanya kepada teman saya, “Apa keuntungan yang sudah kamu dapat dari semua petualangan itu?”. Masalahnya begini, saya bisa memaklumi jalur hidup yang dipilih teman-teman saya yang hidup statis di jalur akadimis. Mereka rajin masuk kuliah, ngerjain tugas, menjadi anak baik di mata dosen, lulus dengan gelar cumlaude, tujuannya sudah pasti biar cepat dapat kerja. Tapi, mereka yang hidup di jalur organisasi, bermain politik ini-itu, mempertaruhkan nyawa setiap kali berdemo—sebenarnya keuntungan apa yang mereka inginkan?
Teman saya bilang ia hanya ingin memperjuangkan apa yang seharusnya diperjuangkan. Katanya, organisasi yang diperjuangkannya adalah organisasi idealis yang berpihak pada rakyat kecil. Ia lalu menceritakan petualangannya bersama buruh pabrik. Bagaimana kehidupan para buruh itu patut diacungkan jempol. Mereka bangun jam lima pagi, berangkat kerja, lalu sore pulang ke rumah. Dengan resiko dan tingkat keselamatan kerja menyedihkan, juga upah yang tidak sesuai. Ada juga cerita tentang istri tukang becak yang sekarat, dia mengantarnya ke rumah sakit, tapi kemudian rumah sakit mempersulitnya dengan urusan administrasi.
Dari pembicaraan itu saya merengung. Setiap orang mungkin memiliki tujuan hidup yang berbeda-beda. Tapi saya jarang menemukan orang yang tujuan hidupnya adalah untuk mengejar tujuan hidup orang lain. Saya salute dengan keberanian teman saya yang mati-matian memperjuangkan kehidupan orang lain (meskipun sebagai konsekwensinya ia harus mengabaikan kehidupan pribadinya).
still with me,
dini ayu
mumpung masih kuliah… coba kalo dah lulus… kebetulan jadi pejabat… besar kemungkinan dia akan menjadi orang yang mempersulit kehidupan orang lain
Question is, “Whose fight is it?”, “Is it his/her only fight?”. Gimana dengan tujuan hidup ortunya, punya anak sarjana, yang belum kesampean? Pentingan mana? Padahal dalam Quran juga dibilang kerabat dulu baru orang miskin.