swahili books

April 3, 2008

Ada salah satu pengalaman yang membuat saya tidak pernah menganggap sepeleh siapa pun yang saya kenal di atas bumi ini. Ini pengalaman nyata dan membuat saya berpikir banyak hal buruk yang sudah saya perbuat kepada orang lain. Begini cerintanya…Sebelumnya, perlu diketahui cerita ini bermula waktu saya mengikuti short course yang diadakan SBTC (syariah banking training centre) beberapa bulan yang lalu. Diantara puluhan peserta short course yang sekelas dengan saya, ada dua peserta yang sangat menarik perhatian semua orang. Tapi, yang jadi masalah, mereka jadi sangat popular bukan karena keaktifan mereka bertanya ke pemateri atau keaktifan mereka menjawab pertanyaan pemateri. Saya sendiri baru menyadari masalah ini belakangan. Kedua peserta ini memiliki wajah yang sangat identik satu dan yang lainnya. Setelah diusut lebih lanjut, ternyata mereka memang kembar. Tapi bukan itu yang diributkan anak-anak sekelas. Karena, ternyata salah satu dari si kembar itu memiliki (maaf) cacat. Kedua kakinya (maaf lagi) panjangnya tidak seimbang. Sementara kembarannya yang satu lagi terlihat cantik dan sempurna.Seharusnya, semua perbedaan yang ada di muka bumi ini disyukuri dan tidak perlu dipermasalahkan. Tapi, yang jadi masalah sekarang, bagaimana kalau perbedaan itu menempatkan kita pada posisi yang kurang beruntung?Memang tidak ada orang yang terlahir sempurna di muka bumi ini. Tapi, normally setiap orang pasti wants to be perfect. Ketika hadir seseorang yang posisinya selalu menjadi bayang-bayang, menjadi pembanding, menjadi si cantik dan memposisikan kita sebagai si buruk rupa, apa yang harus kita lakukan? Kalau saya menjadi si cacat, saya nggak bakalan ikut short course SBTC itu atau pergi ke komunitas mana saja yang di situ ada kembaran saya.

Well, kemarin saya baru membuka ulang salah satu buku yang saya beli di acara obral buku besar2an gramedia malang thn lalu. Melalui buku Duck Soup for the Soul, Swami Beyonanda membuat saya berpikir bahwa; pada dasarnya setiap hari hidup kita ini sudah ditempa dengan kesulitan. Posisi saya sebagai orang yang terlahir tanpa cacat mungkin tdk lebih baik dari pada orang yang sejak lahir buta dan tuli. Setidaknya mereka nggak pernah nonton film bokep, nggak bakal bohong (karena buat bicara aja udah susah), dan nggak pernah kena’ karma gara-gara sering salah menyalahgunakan kelebihan-kelebihan yg di kasih Tuhan sama mereka.

Ada paragraf di halaman pertama di buku Swami yg menurut saya cukup menarik; “Life may actually be easier than we think. I can already hear you protesting that life is hardly easy. And I agree that life can easily be hard. But what if I told you that there is a way that life can easily be easy, and hardly be hard?”

Swami benar. Bahwasannya hidup ini bisa saja sulit kalau kita sengaja mempersulit hidup. Dan, bisa juga mudah kalau kita membuatnya mudah. Makanya, lo nggak usah deh bikin hidup lo jadi susah. Lo nggak usah juga repot-repot mengomentari kekurangan orang lain. Dan, lo nggak perlu melakukan hal-hal yang nggak ada manfaatnya (termasuk ngegosipin orang).

Di buku itu Swami juga bilang, life is easier when you laugh. Tapi, jangan menertawakan orang lain lho ya. Tertawakanlah keadaan ketika lo lagi susah. Karena hidup ini kurang lebih sama saja seperti Duck Soup. Duck Soup is similar to chicken soup in its healing powers. The only difference is, you don’t need a chicken to make a Duck Soup—or, for that matter, a duck.  you are the main ingredient in Duck Soup, which is made primarily from your own laughingstock. Each time you laugh, you add to the laughingstock. Jadi, kurang lebih kalau lo sering ketawa, ya, lo seperti memasak Duck Soup—fun, easy, a piece of cake—when you are the laughingstock!

Seharusnya saya mengangukkan kepala, atau mengangkat topi, atau mengacungkan two thumbs, sebagai tanda kehormatan dan rasa salute saya kepada si cacat. Bayangin aja, dia bisa menempatkan dirinya di komunitas kami meskipun harus bersanding dengan saudara kembarnya yang sempurna. Well, mungkin saja tanpa saya ketahui, si cacat adalah salah satu murid Swami dan saat ini dia sedang menertawakan saya dan para peserta short course yang lain. Karena saya (dan mungkin beberapa teman-teman saya) sebenarnya sangat meragukan kadar mental survive kami jika kami berada di posisinya.

Ah… nggak usah banyak omong lagi deh. Sudah saatnya sekarang saya harus tutup mulut dan mengakui bahwa si cacat itu lebih baik dari saya.

PS. Pesan moral dari pengalaman saya; jangan pernah merasa sempurna & menjadikan kekurangan orang lain sebagai lelucon. Karena, mungkin saja sebenarnya justru hidup kitalah yang perlu ditertawakan.

Still with me,
Dini Ayu

Tinggalkan Balasan