Tadi di kampus saya ketemu teman-teman sejurusan yang sedang persiapan wisuda tgl 23 maret nanti. Salah satu teman saya sudah membulatkan tekad setelah selesai wisuda akan segera naik ke pelaminan. Saya sedikit iri. Kehidupan percintaannya seolah diatur Tuhan dengan sangat mudah. Tidak seperti kehidupan cinta saya yang sulit dimengerti dan beberapa kali harus dibenturkan oleh masalah yang sama.

Saya percaya Tuhan maha adil. Mungkin Tuhan tidak memudahkan kehidupan percintaan teman saya seperti yang saya bayangkan. Tapi teman saya memiliki pandangan sederhana terhadap cinta sehingga ia dimudahkan Tuhan untuk mengambil keputusan menikah secepat itu.

Entah mengapa saya pribadi selalu merasa tidak pernah menemukan titik pertemuan antara kehidupan cinta dan kehidupan pribadi saya. Saya tidak menyalahkan takdir Tuhan atas keadaan saya dan pacar saya yang terpisah jauh ribuan kilometer dan komunikasi kami terbatas hanya menggunakan fasilitas internet. Saya tidak pernah komplain pacar saya memprioritaskan impian dan pekerjaannya. Saya tidak pernah menuntut dia harus selalu ada ketika saya membutuhkannya. Dan, saya tidak menyesali setiap keputusan yang pernah saya ambil dalam kehidupan cinta kami. Saya hanya sedang berada di persimpangan jalan. Saya berhenti di sini, di titik ini, untuk melihat kehidupan seperti apa yang benar-benar saya inginkan setelah saya wisuda!

Masalahnya hidup ini nggak selalu bercerita tentang menemukan soulmate, pangeran pujaan, lalu menikah, dan bahagia selamanya. Saya jadi ingat lirik lagu Fergie, “Fairy tales don’t always have a happy ending”. Dan, saya selalu paranoid bakal menemukan ending buruk dalam kisah cinta saya yang nantinya terlanjur melewati panggung pernikahan.

Still with me,
Dini Ayu

Tinggalkan Balasan