long vacation
Juni 22, 2011
Sekarang lagi musim liburan. Horreeeee…..!! Itu artinya harga tiket pesawat sedang gila-gilaan. Tapi tak masalah sebenarnya. Karena saya akan pergi liburan untuk selama-lamanyaaaa. Bersama suami tercinta. Bebas dari tumpukan pekerjaan, terlepas dari tekanan atasan, bahagia selamanya.
Tips untuk liburan :
1. Siapkan budget yang sesuai dengan kondisi lokasi, kondisi cuaca, dan kondisi dompet.
2. Bawa pakaian secukupnya. Jangan berlebihan.
3. Bawa obat-obatan darurat, seperti : obat flu, obat sakit perut, dll
4. Have fun yaaahhhhhh….
Still with me,
Dini Ayu
Saya ini tipe anak yang sangat penurut. Saya memang sedikit kritis. Tapi tidak pernah menjadi pembangkang. Setiap hal yang orangtua saya katakan, walau kadang menimbulkan argumen panjang, tapi pada akhirnya saya selalu mengalah, mendengarkan, dan melaksanakan perintah mereka sampai tuntas. Saya ini hampir tidak pernah keluar dari jalur yang sudah direncanakan. Saya anak baik, penurut, idola ibu-ibu.
Tapi sebenarnya saya orang yang menyimpan bakat spontanitas. Waktu kuliah, tidak banyak yang tahu, saya sempat mangkir satu semester hanya karena saya bosan dengan rutinitas dan ingin mencari kehidupan yang lebih menantang. Waktu itu sebenarnya dipacu dengan patah hati. Jadi, lebih karena ego saya terluka, saya merasa perlu ada sesuatu yang berubah dalam hidup saya yang standar. Lalu Boom! saya menghilang satu semester. Jalan-jalan, ikut kegiatan ini-itu, training ini-itu, dan dalam proses mangkir itu saya menemukan & mempelajari banyak hal. Di saat-saat itulah, waktu di Bandung saya ketemu Dody Kurniawan, mantan pacar saya waktu SMA, lelaki yang tidak pernah punya pacar lain selain saya, pribadi yang cupu tapi romantis, dan sekarang dia suami saya.
Lalu hidup berjalan, saya kembali ke kampus dan menyelesaikan kuliah. Namun dengan jiwa yang berbeda. Saya tidak lagi terlalu mengejar nilai-nilai bagus, saya tidak lagi mengerjakan tugas-tugas kuliah sampai tidak tidur, saya menjalankan hidup saya lebih rileks dan menikmatinya. Pernah waktu itu dapat nilai D. Well, saya tertawa dan mengambil SP untuk memperbaikinya. Saya bahkan terdepak dari daftar penerima beasiswa. Sebenarnya uang beasiswa itu tidak terlalu saya butuhkan. Mengejar dan mendapatkan beasiswa itu sebenarnya hanya karena gengsi semata. Bukan karena duitnya saya butuhkan. Saya bahkan selalu terlambat mengambil uang beasiswa itu. Seringkali uang itu saya belanjakan untuk hal-hal ga penting.
Sampai kemudian akhirnya saya lulus kuliah. Dengan nilai standar. Saya bangga dan puas. Hahaha…. Lalu orangtua yang saya cintai menyuruh saya pulang kampung. Saya memang agak jarang pulang. Tapi toh akhirnya saya pulang. Dengan backpack yang isinya cuman lima potong pakaian.
Sesampai di kampung, saya tidak pernah diizinkan kembali ke tanah Jawa. Orangtua yang sangat saya cintai menginginkan saya hidup di kampung halaman. Karena menurut mereka, peluang untuk hidup mapan secara financial lebih besar di kampung halaman. Orangtua saya sedikit tradisional. Tidak suka terlibat dengan hal-hal beresiko. Mereka hidup realistis tanpa mau rugi. Tujuan hidup mereka sederhana; hidup baik, makan cukup, tidur nyenak, punya pekerjaan tetap, rumah, mobil, anak-anak terdidik, dan sedikit tabungan atau tanah untuk diwariskan.
Seumur hidup saya tidak pernah menang melawan orangtua. Saya begitu mencintai dan menyayangi mereka. Saya menurut. Saya menjalankan apa yang mereka inginkan untuk kehidupan saya.
Sampai akhirnya saya dipinang Dody Kurniawan. Sebelumnya ritme pacaran kami banyak mengalami pasang-surut. Tidak gampang bertahan pacaran cukup lama, jarak jauh, dan komunikasi yg tak lancar. Tapi dia banyak mengalah untuk saya. Saya dewasa karena dia. Sejak saya kelas satu SMA, sejak saya mengenal cinta, dia lelaki paling baik yang bertahan mencintai saya. Akhirnya kami memutuskan menikah. Karena kalau tidak menikah maka pilihan selanjutnya adalah putus. Hakhakahk…
Berumahtangga dengan dody kurniawan sangat mudah untuk saya. Tapi bagi dody kurniawan berumahtangga dengan saya mungkin agak sulit. Huehuehehe…
Lalu seiring berjalannya waktu saya dihadapkan pada pilihan berat. Resign dari pekerjaan dan ikut suami. Atau, bertahan dengan pekerjaan saya, tapi berumahtangga jarak jauh dengan suami. Hahaha… pilihan ini sebenarnya sangat mudah untuk saya. Tapi menjadi sangat sulit untuk orangtua saya. Karena mereka orang yang melahirkan, membesarkan, merawat, dan menyekolahkan saya. Mereka tidak ingin melihat saya menggunakan seragam ibu rumah tangga, yaitu : DASTER. Hakhakhakahkkk….
Well, banyak orang bertanya kenapa saya resign. Termasuk orangtua. Saya sudah menjelaskannya berulang kali. Tapi masih ada yang tidak memahaminya. Ada yang menyayangkan keputusan saya. Ada lagi yang diam-diam senang saya resign.
Saya pribadi sebenarnya menyukai pekerjaan ini. Saya belajar banyak hal di perusahaan itu. Sedih, senang, jatuh, bangun, semuanya.. saya sangat menikmatinya. Sampai di suatu titik, ketika salah satu teman kantor saya meninggal, saya sadar! Di lubuk hati terdalam, saya lebih menyukai kehidupan saya tanpa pekerjaan ini. Saya sangat mencintai suami dan menjadi pribadi yang saya inginkan setiap bersamanya.
Ada yang pernah bilang ke saya begini : “Kebahagiaan itu tempatnya di hati. Bukan di tempat tertentu. Atau pada pribadi tertentu.”
Iya sih… kebahagiaan itu di hati. Tapi kalau hati bisa memilih, dia akan lebih bahagia dimana :
- Di rumah dengan suami, nongkrong depan TV, menertawai Sule dan kekonyolan para pemain OVJ. Atau :
- Di kantor lembur sendirian. Pulang ke rumah sendirian dengan tumpukan pekerjaan yang mesti diselesaikan. Karena kalau tidak, besok pekerjaan akan semakin menumpuk. Begitu setiap hari.
Kalau ada yang memilih nomor 2 maka dia pribadi yang bukan kayak saya. Huehuehehe… Tak masalah sih. Karena hidup ini pilihan. Saya hanya tdk mau memilih kehidupan nomor 2.
Saya adalah orang yang percaya bahwa rejeki tidak terletak di satu pintu. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti saya berhenti mencari nafkah. Tidak pula saya berhenti berkarya. Saya hanya menyederhanakan kehidupan saya. Itu sajah. Kalau bisa mencari nafkah di rumah, kenapa harus pergi ke kantor dan berpisah ribuan kilometer dari suami?!
Sekarang saya dapat SMS dari boss : Dini sebelum ada keputusan resign mka harus masuk seperti biasa.
Saya sudah mengorbankan banyak hal untuk pekerjaan ini. Termasuk waktu, kebahagiaan, tenaga, dan suami saya. Kalau saya harus menunggu keputusan atasan dan atasan dan atasannya lagi, lalu menunggu pengganti saya datang di kantor, lalu menunggu surat keputusan itu, lalu dari hasil menunggu itu saya mendapat hadiah surat rekomendasi pengalaman kerja, takutnya saya akan menunggu semakin lama dan lama dan lamaaaaa. Sama seperti seperti menunggu SK saya yang sampai detik ini tak kunjung datang. Entah nyangkut dimana. Hakahkhakhakk…. maaf yaa, saya sudah menyusahkan teman-teman di kantor. Saya tahu dengan keputusan resign mendadak ini banyak pihak yang pusing. Terutama atasan saya langsung. Tapi, hidup ini cuman sekali, saya ingin menggunakannya untuk hal-hal yang berharga. Saya ingin menikmatinya, saya ingin menjadi diri saya yang saya mau, dan saya ingin bahagia. Tak masalah jika saya tidak mendapat surat rekomendasi pengalaman kerja. Krn untuk orang kayak saya, masa depan tidak akan pernah menjadi sesuatu yang saya khawatirkan. Saya selalu optimis. Tanpa surat pengalaman kerja itu pun, Tuhan tahu kualitas saya seperti apa, dia maha bijaksana, dan pundak saya insya Allah akan semakin ditegarkan oleh-Nya.
PS. Pakai daster ternyata jauh lebih nyaman dan menyenangkan. Sekarang saya bisa melepaskan diri dari ego wanita karir. Tuhan tahu, saya mau jadi pribadi yang baik.
Still with me,
Dini Ayu
Realitas dan Ideology
Juni 13, 2011
Ada banyak momen dalam hidup. Diantaranya kemenangan atau kekecewaan. Ada banyak sahabat yang mengisinya. Mereka yang baik, jahat, atau gabungan dari kedua sifat itu (baik tapi jahat, atau jahat tapi baik). Saya pernah mendengar sebuah kalimat : ”Realitas jauh lebih konservatif daripada ideology. Manusia lebih mudah menerima presepsi daripada kenyataan.” Manusia yang bisa menguasai setiap momen adalah pemain politik yang hebat. Secara natural mereka punya kemampuan untuk mengubah putih menjadi hitam. Mereka ini playmaker. Pembangun opini. Penguasa market.
Saya sebenarnya orang yang tidak terlalu suka dengan politik. Tapi politik selalu ada dalam setiap sudut kehidupan, tidak bisa dihindari. Terutama organisasi / manajemen tempat saya kerja (skarang udah resign…bangga mengatakannya). Well, waktu itu gejolak politiknya sedikit “menakutkan”. Kadang merasa lelah menghadapinya. Seorang teman kantor saya diluluskan dengan cepat dari pekerjaannya (diberi SP 3 oleh atasan dan itu artinya dia harus hengkang). Hati nurani tidak tega melihatnya. Tapi mau bagaimana. Begitulah keadaannya.
Saya harus kuat, menjalani pekerjaan dengan tegar. Meski waktu mulai berubah, hidup berkeluarga, pengeluaran bertambah, dan gaji yang diterima rasanya tidak sesuai dengan tanggung jawab, pengorbanan, dan resiko yang dipikul. Tapi saya tetap semangat pada koridor hidup yang benar.
Teman saya Marion Rotinsulu punya cita-cita jadi presiden. Tapi sekarang ini masih berkutat pada pekerjaan sementaranya sebagai enginer. Marion ini sedang belajar politik, kader partai, dan dia sangat mencintai proses berpolitik dimana pun ia berada. Lewat kacamatanya saya mencoba memahami politik. Agak sulit. Batin kadang tidak bisa menerimanya. Tapi begitulah politik. Akan jadi panjang jika dibicarakan.
Huuuuuffhhh—tarik nafas dan hembuskan!
Manusia sejatinya diberikan otak untuk berpikir, mulut untuk bicara, dan hati untuk merasa. Tapi dari ketiganya, hendaklah manusia memiliki hati yang baik. Buatlah hati itu seperti bejana yang bisa menampung semua hal dengan bijaksana. Semakin besar bejana itu, semakin banyak yang bisa ditampungnya. Sehingga manusia menghasilkan pemikiran, kata-kata, dan tindakan yang spektakuler, nyata, dan bijaksana.
Akan menjadi sia-sia jika kita berpolitik kalau tidak punya hati seperti itu. Anda mungkin sukses, tapi tidak bisa mengubah dunia seperti Nelson Mandela.
Ini hanya tulisan blog saja. Saya tidak sedang menggurui siapa-siapa. Saya ini bukan siapa-siapa. Saya tidak punya kemampuan hati yang bisa dipakai untuk berpolitik. Saya tidak kuat memanipulasi untuk sebuah kepentingan.
Tapi, saya yang bodoh ini mau curhat. Untuk para pemegang kewenangan, pemerintah, presiden, direksi, gubernur, bupati, manager, para politisi, semuanyaaaah……. : Di atas bumi ini kejujuran memang sudah sedikit langka. Tapi itu karena keadilan juga semakin tidak memberikan ruang pada orang-orang yang jujur. So please dude, walau saya ini orang yang ga penting, tapi kalian harusnya bisa mikir itu.
Okay, cukup! Kalau tulisan ini diteruskan maka Mario Teguh akan tergugah dan kemudian merasa terancam. Hahahahaaaaaaaaaaa….. Karena saya bisa jadi salah satu pesaing besarnya. Wkwkwkwkw….. yuuukk mareeee…..
Semoga besok matahari masih terbit pada orbitnya. Saya masih bisa meneruskan kehidupan seperti biasa, menikmatinya, mengambil hikmah, dan menulis sesuatu di sini untuk dikenang.
Still With Me,
Dini Ayu
BrandNew Life
Juni 13, 2011
Blog ini lama terabaikan. Mungkin hidup saya sedikit tidak berwarna. Stuck di kantor! Hakhakhak…. Tapi mulai sekarang saya akan mulai mengisi blog ini perlahan-lahan. Karena saya sudah resmi jadi pengangguran. YAY! HORREEEEEE! Waktu jalan-jalan saya akan semakin banyak. Kehidupan juga akan lebih seru. Tidur juga bisa sesuka hati. Saya bangga dan senang!
Still with me,
Dini Ayu
Saya dan Polisi
April 12, 2010
Habis baca blog teman saya Ray – “Teman Saya & Polisi” Saya jadi ingat pengalaman pertama saya ditilang polisi. Jadi waktu itu ceritanya saya baru belajar naik motor. Nah, namanya juga orang masi dalam proses belajar. Suka grogi di jalan.
Waktu sampai di sebuah persimpangan jalan… tiba-tiba motor saya dicegat sama si pak polisi. Eh, kaget saya…. ternyata hari sudah malam dan saya ga pasang lampu motor. Wkwkwkw…. secara kan orang baru belajar, jadi agak bego. Dalam hati saya ketawa, “Pantesan dari tadi mata saya suka nyenggol2 kendaraan yang jalan di depan saya. Hahahaha….”
Nah si pak polisi ini dengan standar pelayanannya; mulai dari nunjukin ekspresi serius, suara yang dibauat galak, postur yang susah dilawan, dia memulai proses intimidasinya, “Bisa liat STNK dan SIM?”
MAMPUS! Secara saya kan baru belajar naik motor nih, jadi belum punya SIM.
Dengan wajah memelas saya bilang ke dia, “Saya ga punya SIM pak.”
“STNK punya?” tanya si pak polisi.
Saya menyodorkan STNK.
“KTP?”
Saya menyodorkan KTP.
“Kamu tinggal di Mongkonai ya?” sambil mengamati isi KTP saya. “Di Mongkonai sebelah mana?”
“Dekat Dokter Yan Panigoro Pak.”
Si polisi mulai senyum genit, ”Jangan panggil pak dong.”
Heh?
”Kamu masi single kan?”
HAAAAAHHHHH?
“Di KTP ini ditulis belum menikah. Masih single dong?! Punya nomer hape ga? Saya boleh main ke rumah ya sekali-sekali waktu?!”
HAAAAAAAAHHHHHH???
Agak bego dan gugup saya bilang, “Eh… itu hape saya ketinggalan di rumah….”
“Tapi nomornya hapal donk?!” dia menatap saya dengan tatapan maut mengerikan. Tapi ada sedikit ekspresi genit terpancar di sana.
“Duuuhhh gimana ya……” Sebenarnya saya agak takut menjalin persahabatan di tengah jalan begitu. Tapi… saya berada dalam posisi terjepit.
“Kalo nggak saya kasi surat tilang nih…” ancam si pak polisi dengan wajah usil.
Langsung saya kasih nomor hape. Tapi dia ga tau kalo itu nomor hape palsu. Nomor yang saya buat di otak dalam keadaan terjepit. Hahahaha…. Belum tau dia kalo saya ini jauh lebih cerdas dari dia. Wkwkwkw……..
Well, itulah kisah pertama saya berhadapan dengan seorang polisi.
Kisah selanjutnya, perkenalan saya dengan seorang aparat polisi, jauh lebih baik dari kejadian itu. Saya kenal dengan seorang polisi cakep dalam sebuah perjalanan singkat Amurang-Kotamobagu. Namanya Matt. Hehehe…. kalo ga ingat saya punya pacar, si Matt Polisi ini udah saya pacarin. *kidding*. He’s a gud person! ^______^
Ehm… eniwei, si Matt ini kemudian masuk dalam ’list’ penting saya yang berurusan dengan aparat hukum. He’s a gud buddy. Hehehehe…… (Matt jangan GR ya…)
Still With Me,
Dini Ayu